Makna Sunnah Hasanah & Sunnah Sayyi’ah Dalam Sabda Rasulullah

Makna Sunnah Hasanah & Sunnah Sayyi’ah Dalam Sabda Rasulullah

Makna Sunnah Hasanah & Sunnah Sayyi’ah Dalam Sabda Rasulullah

Banyak orang yg mengenal kata bid’ah hasanah & bid’ah sayyi’ah. Istilah ini terkenal pada empat mazhab fiqih yg ada dan dipopulerkan oleh para tokoh mazhab. Namun, ke 2 kata ini tidak pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad sehingga ada saja segelintir orang yang keberatan dengan kata ini. Sejatinya, ada kata lain yang seperti yang justru diperkenalkan sang Nabi Muhammad sendiri, yakni kata sunnah hasanah & sunnah sayyi’ah. Kali ini akan dibahas kedua kata ini agar kaum Muslimin tahu kata yg digunakan sang Rasulullah dengan lebih baik.
Dalam hadits Nabi yang shahih disebutkan:مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
“Barangsiapa yg membuat sunnah hasanah pada Islam maka dia akan memperoleh pahala & pahala orang yang mengikutinya, menggunakan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang menciptakan sunnah sayyi’ah dalam Islam maka dia akan menerima dosa dan dosa orang yg mengikutinya, menggunakan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun” (HR Muslim).
US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US
Dalam hadits tersebut jelas sekali Nabi Muhammad membagi istilah sunnah sebagai 2 versi, yakni versi hasanah (baik) & versi sayyi’ah (buruk). Tapi apa makna sunnah di sini?
Sebagian orang yg mengaku salaf mengartikan sunnah di sini sebagai hal yg memang sudah disyariatkan menggunakan tegas oleh Nabi Muhammad sebelumnya, tetapi tak dipraktikkan. Menghidupkan kembali sunnah yang terabaikan ini dipercaya menciptakan sunnah hasanah (sanna sunnatan hasanah). Contoh yang diajukan kelompok ini adalah sedekah & tarawih berjamaah. Keduanya diajarkan Nabi namun sempat ditinggalkan sehingga dianjurkan balikbelakangan.
Bila tidak teliti, memang tampaknya tidak terdapat perkara menggunakan makna ini, padahal makna ini salahbesardengan dua alasan sebagai berikut:
Pertama, sunnah pada artian tersebut tidak sanggup dibagi menjadi hasanah & sayyi’ah. Pertanyaan yang tidak sanggup dijawab oleh grup pendaku salaf ini adalah: Bila sunnah diartikan menjadi ajaran yang telah ditegaskan sang Nabi Muhammad, maka bagaimana mampu ada versi baik dan versi buruknya? Apakah pernah Nabi mengajarkan sunnah yg jelek yg kemudian tak dipraktikkan lalu ada yang menghidupkannya kembali sebagai akibatnya berdosa?
Tampaknya tak ada grup pendaku salaf yang menjelaskan ihwal sunnah sayyi’ah ini dengan penjelasan memadai sebab memang akan kontradiktif dengan definisinya sendiri. Bahkan, mengatakan ada sunnah sayyi’ah (dalam arti ajaran Nabi yg buruk) merupakan penghinaan besarkepada Rasulullah sebagai akibatnya tak mungkin ada Muslim yg berani mengungkapkan itu.
Lalu apa makna sunnah dalam konteks yg dibagi dua ini? Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menyebutkan kata “sanna sunnah hasanah” sebagai memulai kebaikan (al-ibtida’ bil-khairat) sedangkan “sanna sunnah sayyi’ah” menjadi memulai/membuat-buat aneka macam kebatilan & keburukan (ikhtira’ al-abathil wal-mustaqbahat). Hal ini berarti istilah sunnah pada situ bukanlah sunnah Rasulullah seperti yang disangka grup di atas, tetapi merupakan hal baru secara generik yg memang adakalanya baik dan adakalanya jelek (An-Nawawi, Syarh Muslim, Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, juz VII, laman 104).
Di bagian lain di buku yang sama, An-Nawawi mengungkapkan sunnah hasanah & sunnah sayyi’ah ini dengan redaksi membuat bid’ah hasanah & bid’ah sayyi’ah. Ia menyampaikan:أَنَّ كُلَّ مَنِ ابْتَدَعَ شَيْئًا مِنَ الشَّرِّ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ كُلِّ مَنِ اقْتَدَى بِهِ فِي ذَلِكَ الْعَمَلِ مِثْلَ عَمَلِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمِثْلُهُ من ابتدع شيأ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ كُلِّ مَنْ يَعْمَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُوَ مُوَافِقٌ لِلْحَدِيثِ الصَّحِيحِ مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً
“Bahwasanya setiap orang yg membuat bid’ah (hal baru) yang buruk, maka beliau mendapat semisal dosa orang yg mengikutinya dalam perbuatan itu sampai hari kiamat. Begitu jua orang yang menciptakan bid’ah (hal baru) yg baik, maka ia menerima semisal pahala orang yang mengikutinya pada perbuatan itu sampai hari kiamat. Ini sesuai menggunakan hadits benar “siapa yg menciptakan sunnah hasanah…” (An-Nawawi, Syarh Muslim, Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, juz XI, page 166).
Dengan pengertian misalnya ini, maka istilah sunnah hasanah dan sunnah sayyi’ah dalam hadits di atas tidak kontradiktif & mampu sebagai penjelasan mendetail bagi hadits mengenai bid’ah. An-Nawawi mengatakan:وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ تَخْصِيصُ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُومَةُ
“Dalam hadits ini ada restriksi makna sabda Rasulullah ‘semua hal baru adalah bid’ah & semua bid’ah adalah sesat’ dan bahwasanya yang dimaksud pada sana merupakan hal baru yang batil dan bid’ah yang buruk saja” (An-Nawawi, Syarh Muslim, Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, juz VII, halaman 104).
Kedua, hadits tersebut menggunakan redaksi “man sanna sunnatan” pada arti “siapa pun yg membuat sunnah”. Sudah jelas kata sunnah di sini bukanlah pada makna sunnah Rasulullah sebab sunnah Rasulullah hanya dibuat oleh Rasulullah saja, tak mampu dibuat oleh siapa pun. Sunnah yang mampu dibentuk oleh siapa saja adalah sunnah pada arti bahasa, yakni segala hal baru secara umum. Ini meliputi hal yang betul-betul baru pertama kali terjadi misalnya di pada kasus penghilangan nyawa oleh Qabil dalam hadits berikut:لَا تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا وَذَلِكَ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ القَتْلَ
“Tidaklah suatu jiwa dibunuh secara zalim kecuali putra Adam yg pertama (Qabil) menerima bagian dosanya sebab dialah yang pertama menciptakan sunnah pembunuhan” (HR Bukhari).
Sunnah berupa pembunuhan di masa Qabil adalah kejadian yg tidak pernah terjadi sebelumnya. Qabil-lah insan pertama yang melakukannya sebagai akibatnya ia dianggap menciptakan sunnah berupa penghilangan nyawa. Pembunuhan adalah sebuah sunnah sayyi’ah yg dosanya terus mengalir bagi Qabil.
Dalam versi sunnah hasanah atau yg baik, misalnya merupakan peringatan maulid Nabi Muhammad yg diselenggarakan setiap tahun. Peringatan semacam ini betul-benarbaru sebab tak dikenal sebelumnya pada masa salaf, tetapi dia tergolong baik karena masuk kategori hal yang sesuai dengan kaidah syariat. Imam Abu Syamah al-Maqdisi mengatakan:وَمن أحسن مَا ابتدع فِي زَمَاننَا من هَذَا الْقَبِيل مَا كَانَ يفعل بِمَدِينَة اربل جبرها الله تَعَالَى كل عَام فِي الْيَوْم الْمُوَافق ليَوْم مولد النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم من الصَّدقَات وَالْمَعْرُوف واظهار الزِّينَة وَالسُّرُور
“Hal baru yang terbaik (ahsan) pada kategori ini merupakan apa yang dilakukan pada kota Irbil, semoga Allah menambalnya dengan kebaikan, dalam setiap tahun di hari yang bertepatan menggunakan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang berupa sedekah, kebaikan, dan menampakkan perhiasan & kebahagiaan” (Abu Syamah, al-Baits ‘ala inkar al-Bida’ wal-Hawadits, 23).
Bisa juga sunnah berupa hal yg tidak sepenuhnya baru karena sudah dikenal sebelumnya tetapi kemudian tak dilakukan. Contoh versi hasanahnya merupakan memulai memberi model pada sedekah sebagai akibatnya diikuti orang banyak, melakukan tarawih berjamaah sebulan penuh, dan lain sebagainya yang secara spesifik telah dikenal di masa Nabi sebagai kebaikan. Adapun contoh versi sayyi’ahnya merupakan mengawali praktik perjudian atau pesta miras di daerah yang sebelumnya steril menurut perbuatan itu. Ini tergolong menghidupkan pulang sunnah sayyi’ah yg telah dikenal sejak dulu.